Bermula Dari Bajakan

 


    Dulu waktu saya kelas 3 atau 4 Sekolah Dasar, saya senang sekali menonton film. Dan genre favorit saya adalah horor. Anak kelas 4 SD menonton film horor. Pada saat itu saya bisa setiap hari kunjungan ke tempat kawan-kawan saya untuk nobar.

Darimana kami dapat film-film itu? Kami membelinya di pasar malam, dan tentunya bajakan. Biasanya kami akan berpatungan untuk membeli satu buah kaset seharga 7 ribu rupiah. Di dalamnya terdapat 8 atau 12 judul film favorit kami, sangat worth it, kan?

Menonton film bermodal 7 ribu rupiah dan tanpa pengawasan. Tentu saja tontonan kami tidak terkontrol, kebanyakan film yang kami tonton tidak sesuai untuk usia kami saat itu, kebanyakan film yang kami tonton memiliki ratting R atau untuk remaja, sedangkan kami pada saat itu masih berusia 9 atau 10 tahun.

Itulah potret kenakalan kami saat Sekolah Dasar. Lalu, apakah praktek membeli kaset bajakan dan nobar sambil makan basreng itu berlangsung lama? Untungnya tidak, karena pada suatu hari kakak perempuan saya memergoki ketika kami sedang melakukan kunjungan rutin. Pada saat itu kami tengah bersiap menonton sebuah film yang memiliki ratting R, tentu saja untuk remaja.

Setelah kejadian itu kami pun diedukasi, atau diberitahu kalau hal yang kami lakukan salah itu namanya pembajakan, terlebih film yang ditonton tidak sesuai dengan usia kami yang baru menginjak 10 tahun. Kami pun menghentikan kebiasaan nobar tersebut. Sampai suatu hari, kakak perempuan saya mengajak saya ke suatu tempat yang baru kali ini saya kunjungi, bioskop.

Di bioskop saya diajak menonton film yang tentu saja sesuai dengan usia saya yaitu Laskar Pelangi. Saya sangat menyukai film tersebut. Adegan demi adegan tak berhenti membuat saya mengeluarkan decak kagum. Saya begitu terbius dan terpesona oleh alur cerita dan kelihaian pemain-pemainnya dalam memainkan emosi penonton. Saya merasa seperti saya berada disana, di sebrang sana, menjadi siswa ke-11 di SD Muhammadiyah, Gantung.

Selepas kunjungan ke bioskop pertama saya, saya menjadi keranjingan untuk pergi ke bioskop. Tapi apa daya, saya saat itu hanya anak Sekolah Dasar berusia 10 tahun yang jangankan pegi ke bioskop seorang diri, pergi ke pasar saja saya belum berani.

Menginjak bangku SMK, saya sudah merasa dewasa. Sudah merasa bahwa saya mampu melakukkan yang saya mau. Termasuk keinginan saya semasa Sekolah Dasar, yaitu untuk pergi ke biokop lebih sering. Dari sana saya mulai sering menyisihkan uang jajan untuk pergi menonton film. Biasanya 2 bulan atau 3 bulan sekali saya pergi ke bioskop. Tapi jika sekiranya tidak ada film yang ingin saya tonton, biasanya saya skip. Karena ternyata, kebalikan dari saat saya masih SD yang selalu melahap mentah-mentah tontonan. Kini, saat sudah dewasa saya malah lebih sering memilah milih film untuk ditonton.

Karena kecintaan saya pada film, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke universitas jurusan perfilman. Namun, sayangnya saya harus menelan pil pahit karena saya tidak lolos seleksi untuk universitas tersebut. Tak habis akal, sayapun mendaftar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, saya pun dieterima.

Di KPI saya belajar banyak, tak hanya tentang perfilman. Malah materi perfilman cenderung sedikit. Tapi untunglah ada komunitas Free Film, komunitas yang khusus untuk mahasiswa KPI yang tertarik dengan dunia perfilman, saya pun join disana.

Sekarang ini, setelah kuliah terlebih di masa pandemi yang serba sulit seperti ini betul-betul tak memungkinkan saya untuk pergi ke bioskop untuk menonton film kesayangan. Untunglah, di masa sekarang semuanya telah mudah. Tak harus pergi ke bioskop untuk menuntaskan hasrat menonton film, telah banyak aplikasi yang memudahkan saya menonton film walaupun di rumah saja. Kini, kebiasaan menonton film saya tidak terhalangi ataupun terganggu walaupun saya harus di rumah saja.


Nama              :  Renawati Maulani

Nomor HP      :  089670061735

Email              :  renamaulani28@gmail.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar