Mendobrak Patriarki dengan Film Disney: Mulan

 

(Sebuah Resensi dan Ulasan)

!Mengandung Spoiler!




            Film disney adalah film-film yang terkenal dengan fantasi. Mengantarkan penontonnya untuk senantiasa bermimpi. Bermimpi menjadi seorang puteri atau bahkan permaisuri. Bermimpi berjumpa dengan pangeran berkuda putih atau bahkan bermimpi memiliki ibu peri. Sebenarnya sah-sah saja, toh film-film yang dibuat disney memang tujuan utamanya untuk menghibur. Bermimpi sejenak tak ada salahnya, kan?

            Disini, jika harus membahas dunia fantasi yang disuguhkan disney tentu tak akan ada habisnya, karena begitu banyak macam cerita yang ada. Kita hanya akan fokus pada film bungsu yang digarap oleh Walt Disney yaitu, Mulan.

            Film Mulan yang direncanakan menghiasi layar lebar mulai Maret 2020 harus gigit jari. Pasalnya, sebelum pemutaran perdana film Mulan, bioskop sudah lebih dulu diistirahatkan untuk beroperasi karena situasi pandemi.

            Tak habis akal, disney pun akhirnya menayangkan film Mulan melalui aplikasi streaming bernama Disney+ pada bulan September. Seperti perkiraan, film ini laris di pasaran. Karena penayangan film ini terasa bagai angin segar ditengah kemelut otak-otak manusia di masa pandemi. Namun, meskipun laris nyatanya keuntungannya tidak sesuai ekspektasi. Karena siarannya online, celah yang terbentuk untuk melakukkan pembajakan pun semakin terbuka lebar.

            Masuk ke jalan cerita. Film dimulai dengan adegan kejar-kejaran antara seorang anak perempuan dengan seekor ayam di sebuah perkampungan tradisional. Dilihat dari gaya arsitektur dan pakaian yang dikenakan warga sekitar, penonton dapat menyimpulkan cerita ini berlatar di Asia Timur atau Tiongkok.

            Dalam aksi kejar-kejaran itu, si anak perempuan, sebut saja Mulan bertingkah tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Bagaimana tidak, dimanakah kita bisa melihat anak perempuan yang bergelantungan di atap rumah, memanjat dan bertingkah layaknya laki-laki. Mungkin itu yang ada di pikiran penonton, itu pula yang ingin ditunjukkan oleh sutradara. Bahwa anak perempuan memiliki stigma yang kalem, bahwa memiliki keahlian memanjat dan bertarung hanya boleh dimiliki oleh laki-laki. Terbukti dari mimik wajah warga sekitar yang kelihatan tidak senang menyaksikan adegan tersebut.           

            Dari adegan awal yang memperlihatkan ketidaksenangan warga sekitar, dapat disimpulkan bahwa budaya patriarki masih melekat sangat kuat dalam kehidupan masyarakat. Dimana seorang anak perempuan yang memiliki kemampuan atau dalam budaya sana disebut dengan Chi atau Qi dianggap tidak normal dan dipaksa mengikuti arus agar dianggap ‘normal’. Yaitu, berlaku seperti wanita pada umumnya dan menyembunyikan Chi yang ia miliki.

            Sama seperti pada film Mulan versi animasi, dalam bentuk life action  ini penonton disuguhkan dengan keputusan besar yang harus diambil oleh Mulan. Dimana ia dipaksa menikah saat ia sendiri belum siap, lalu panggilan dari kekaisaran yang mewajibkan setiap keluarga untuk mengirimkan satu orang lelaki agar dilatih menghadapi peperangan. Sedangkan laki-laki di keluarganya hanya ada ayahnya yang sudah tua dan pincang karena cedera perang.

            Seperti yang sudah bisa ditebak, tokoh utama harus memiliki sifat heroik. Jadilah Mulan bersama sang kuda menembus kegelapan menuju camp pelatihan. Berbekal surat undangan yang ia ambil diam-diam dari sang ayah. Di tengah perjalanan muncul burung phoenix menunjukkan jalan, yang diduga merupakan jelmaan dewa. Dalam mitologi Tiongkok sendiri phoenix dipecaya merupakan rajanya para burung.

            Sesampainya di camp, Mulan yang telah berdandan ala ksatria dengan baju zirah milik ayahnya harus membuat identitas baru sebagai laki-laki. Karena yang boleh mengikuti pelatihan ini hanya laki-laki. Untuk itu, Mulan memperkenalkan diri sebagai Hua Jun. Sebagai informasi, Hua sendiri adalah marga asli Mulan dan keluarganya.

            Berbeda dari film disney kebanyakan yang menjual romantisme dan percintaan. Film Mulan ini lebih mengedepankan sisi women power dan juga kekeluargaan. Jika biasanya film disney akan dipenuhi adegan pangeran dan puteri yang bercengkrama dan memadu kasih, pada film ini penonton hanya akan disuguhkan oleh suara dentingan pedang dan ringikan kuda di medan perang.

            Mengedepankan poin tentang kesetaraan gender. Film ini banyak membuat orang melek. Bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam membela negara. Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk memiliki kemampuan. Bahwa bukan hanya laki-laki yang bisa menjadi pemberani dan kuat. Karena dalam Al-Quran sendiri dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan itu setara, sama-sama makhluk Allah.

            Sosok Mulan yang kuat dan pemberani berbanding terbalik dengan stigma yang disematkan oleh masyarakat pada perempuan. Dimana masyarakat menempatkan perempuan pada kasta yang bawah, yang tugasnya hanya harus menurut dan tidak boleh memiliki keinginan apalagi keberanian. Terbukti dengan Mulan  yang ditertawakan oleh kawan-kawan di camp pelatihan kala ia menyebutkan bahwa tipe wanita idealnya adalah wanita yang pemberani, dimana dia saat itu sedang mendeskripsikan dirinya sendiri.

            Selain woman power yang pada film ini direprentasikan oleh tokoh Mulan. Kita juga belajar hal lain mengenai pengabdian pada keluarga. Karena Mulan sangat berbakti pada kedua orang tuanya dan juga sangat menyayangi mereka hingga rela melakukkan apapun dan juga mengorbankan segala yang ia miliki termasuk cita-cita dan kebebasannya.

            Walaupun tidak bisa dibenarkan, namun kebohongan yang dilakukkan Mulan tidak bisa dipungkiri adalah bentuk cintanya kepada orang tuanya, kepada keluarganya. Jika tidak ada kejadian pemanggilan oleh kekaisaran yang akan merenggut ayahnya , tidak mungkin dia serta merta ingin mengikuti pelatihan militer. Dia mungkin akan dijodohkan oleh orang tuanya lalu menikah dan punya anak.

            Kecintaan Mulan dan pengabdiannya pada keluarga patut menjadi inspirasi. Rela berkorban untuk orang tua menjadi poin plus sebagai seorang wanita.

            Walaupun terdapat beberapa plot hole yang dapat ditemukan di film ini. Namun, secara keseluruhan film Mulan ini sangat layak untuk ditonton. Karena banyak hal yang dapat diambil, terlebih ketika menghadapi budaya patriarki yang sangat umum ditemukan . Dan juga bagi penonton yang jengah dengan film romansa khas disney, tenang saja. Di film Mulan ini, tidak akan ditemukan adegan-adegan seperti itu.

            Jika film disney yang lain selalu diakhiri dengan kalimat “Happily ever after”seiring dengan pemeran utama yang mendapatkan pangeran lalu menikah dan hidup bahagia selamanya. Pada film Mulan ini, adegan akhir ditunjukkan dengan Mulan yang berkumpul bersama lagi dengan keluarganya. Memiliki arti bahwa, bahagia itu kita yang ciptakan, dan kebahagiaan dapat dimulai dari keluarga.

 

-Fin-   

           Oleh         

            Renawati Maulani

            1174020135

            KPI 7C




Tidak ada komentar:

Posting Komentar